Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Featured Posts

Jumat, 15 Maret 2013

Dampak Negatif Penggunaan Pupuk Kimia Pabrik

Berikut informasi mengenai dampak begatif dari pupuk kimia buatan, silahkan disimak

Penggunaan pupuk kimia an-organik yang tidak terkendali menjadi salah satu penyebab penurunan kualitas kesuburan fisik dan kimia tanah. Keadaan ini semakin diperparah oleh kegiatan pertanian secara terus-menerus (intensif), sedang pengembalian ke tanah pertanian hanya berupa pupuk kimia Urea, TSP, dan KCl (unsur N, P, K saja), bahkan pada keadaan ekstrim hanya unsur N lewat pemberian pupuk Urea saja dan hanya sangat sedikit unsur-unsur organik yang dikembalikan ke dalam tanah. Hal ini mengakibatkan terdegradasinya daya dukung dan kualitas tanah pertanian di Indonesia, sehingga produktivitas lahan semakin turun.


Penumpukan sisa atau residu pupuk kimia an-organik merupakan salah satu penyebab utama mengerasnya tanah-tanah pertanian. Keadaan ini banyak terjadi di sentra-sentra pertanian terutama di Pulau Jawa. Residu pupuk kimia an-organik di dalam tanah ini mengakibatkan terhambatnya proses dekomposisi secara alami oleh mikrobia di dalam tanah. Hal ini dikarenakan sifat bahan kimia an-organik yang lebih sukar terurai daripada sisa bahan organik. Jika tanah semakin keras maka tanah semakin tidak responsif terhadap pupuk kimia an-organik, sehingga berapapun banyaknya tanah diberi pupuk kimia an-organik hasilnya tetap tidak optimal. Mengerasnya tanah pertanian juga akan mengakibatkan porositas tanah menurun, sehingga ketersediaan oksigen bagi tanaman maupun mikrobia tanah menjadi sangat berkurang. Dampak lainnya adalah terhadap pertumbuhan tanaman. Terbatasnya penyebaran akar dan terhambatnya suplai oksigen ke akar mengakibatkan fungsi akar tidak optimal, yang pada gilirannya menurunkan produktivitas tanaman.
dari berbagai sumber

Selasa, 31 Januari 2012

Pengaruh Pupuk Terhadap Pertumbuhan Biji Kangkung

BAB I
PENDAHULUAN
 A.     Latar Belakang
Urbanisasi penduduk pedesaan ke daerah perkotaan tidak dapat dihindari karena pesatnya pertumbuhan ekonomi di daerah perkotaan. Meningkatnya jumlah penduduk di daerah perkotaan membawa dampak terhadap peningkatan kebutuhan pangan, khususnya sayuran.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk dapat meningkatkan produksi sayuran, namun demikian masih belum dapat mengimbangi permintaan pasar. Keadaan ini dimungkinkan antara lain sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk, perbaikan pendapatan dan peningkatan kesadaran gizi masyarakat. Selain itu di kota-kota besar tumbuh permintaan pasar yang menghendaki komoditas sayuran dengan kualitas yang baik dan dengan berbagai jenis yang lebih beragam.
Berbagai jenis komoditas sayuran diusahakan oleh petani di daerah pinggiran perkotaan dalam luas garapan yang sempit (£ 25 are), seperti sawi (caisim), bayam, kangkung, terong, cabe, tomat, bawang merah, bawang putih, kacang panjang dan sebagainya (Soethama et al., 1998). Umumnya dalam satu penguasaan lahan, diusahakan beraneka ragam komoditas sayuran dalam petakan yang berbeda, misalnya disamping diusahakan komoditas sayuran sawi hijau (Caisim), ditanam juga bayam, kangkung, cabe, kacang panjang dan komoditas sayuran lainnya.
Kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.), juga dikenal sebagai Ipomoea reptans Poir1. merupakan sejenis tumbuhan yang termasuk jenis sayur-sayuran dan di tanam sebagai makanan. Kangkung banyak dijual di pasar-pasar. Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.
Selain pemberian pupuk organik, pemberian pupuk urea sebagai sumber hara N merupakan usaha yang banyak dilakukan dalam meningkatkan produktivitas sayuran khususnya Kangkung. Pupuk urea sebagai sumber hara N dapat memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman, dimana tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N, berwarna lebih hijau (Hardjowigeno, 1987).
Usahatani sayuran di pinggiran perkotaan dihadapkan pada masalah sempitnya lahan serta tingginya tuntutan masyarakat terhadap kualitas lingkungan, sehingga dengan demikian penerapan budidaya hemat lahan dengan menitik beratkan pada masukan/input organik perlu dilakukan. Mengingat peran pupuk organik dan pupuk urea sebagai sumber N dalam tanah dan tanaman sangat penting, maka disusunlah penelitian lapang untuk mempelajari pengaruh pupuk  urea terhadap pertumbuhan tanaman kangkung.
 B.    Rumusan Masalah
Setelah memberikan pokok masalah yang mendasari penulisan karya tulis ilmiah, penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
  1. Bagaimana pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan tanaman?
  2. Bagaimana prospek interaksi pupuk terhadap tanaman?
Hal-hal inilah yang memberi semangat bagi penulis untuk memecahkan masalah tersebut dan menuangkannya ke dalam karya tulis ilmiah secara detail.
C.    Tujuan Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan:
  1. Mengetahui pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan tanaman.
  2. Mengetahui prospek interaksi pupuk terhadap tanaman.
D.    Manfaat Penelitian
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini ada beberapa tujuan yang ingin di raih, yaitu:
Bagi Masyarakat:
  1. Memberi peluang usaha yang prospektif.
Bagi Siswa/Penulis
  1.             Memperluas dan mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pertanian;
  2. Melatih kemampuan penulis untuk memecahkan masalah dan menuangkan ke dalam karya tulis ilmiah;
  3. Untuk melatih mengembangkan potensi dan keterampilan proses ilmiah serta membantu siswa mengenal dan mendekatkan diri pada objek atau persoalan biologi.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN TEORI
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea
Spesies : I. aquatic

Kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.), juga dikenal sebagai Ipomoea reptans Poir1. merupakan sejenis tumbuhan yang termasuk jenis sayur-sayuran dan di tanam sebagai makanan. Kangkung banyak dijual di pasar-pasar. Kangkung banyak terdapat di kawasan Asia dan merupakan tumbuhan yang dapat dijumpai hampir di mana-mana terutama di kawasan berair.
Ada dua bentuk kangkung. Kangkung mempunyai daun yang licin dan berbentuk mata panah, sepanjang 5-6 inci. Tumbuhan ini memiliki batang yang menjalar dengan daun berselang dan batang yang menegak pada pangkal daun. Tumbuhan ini bewarna hijau pucat dan menghasilkan bunga bewarna putih, yang menghasilkan kantung yang mengandung empat biji benih. Terdapat juga jenis daun lebar dan daun tirus.
Ada dua jenis penanaman diusahakan: kering dan basah. Dalam keduanya, sejumlah besar bahan organik (kompos) dan air diperlukan agar tanaman ini dapat tumbuh dengan subur. Dalam penanaman kering, kangkung ditanam pada jarak 5 inci pada batas dan ditunjang dengan kayu sangga. Kangkung dapat ditanam dari biji benih atau keratan akar. Ia sering ditanam pada semaian sebelum dipindahkan di kebun. Daun kangkung dapat dipanen setelah 6 minggu ia ditanam. Seikat daun kangkung.
Jika penanaman basah digunakan, potongan sepanjang 12-inci ditanam dalam lumpur dan dibiarkan basah. Semasa kangkung tumbuh, kawasan basah ditenggelami pada tahap 6 inci dan aliran air perlahan digunakan. Aliran air ini kemudian dihentikan apabila tanah harus digemburkan. Panen dapat dilakukan 30 hari setelah penanaman. Apabila pucuk tanaman dipetik, cabang dari tepi daun akan tumbuh lagi dan dapat dipanen setiap 7-10 hari.
Semasa berbunga, pucuk kangkung tumbuh dengan lambat, tetapi pembajakan tanah dan panen cenderung menggalakkan lebih banyak daun yang dihasilkan.

Pupuk
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen tambahan. Pupuk mengandung bahan baku pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.

Urea
Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik, yang akhirnya meruntuhkan konsep vitalisme.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.     Tempat Penelitian
Untuk  perlakuan penanaman, pengamatan serta pengolahan dan penyusunan  data laporan tanaman kangkung dilakukan di Rumah.
B.    Waktu Penelitian
Persiapan          : 29 Agustus 2011
Penanaman      : 1 september 2011
Pengukuran      : 10,15,20 september 2011
Olah data           : 28-30september 2011
C.    Alat dan Bahan
    1. Alat :
a)  Polibag
b)  Penggaris
c)  Pulpen
d)  Buku tulis
e)  Kamera digital

  1. Bahan :
a)  Tanah
b)  Biji tanaman kangkung
c)  Air
d)  Pupuk
D.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini melibatkan satu faktor, yakni variasi kadar pupuk yang terdiri dari 1-3 taraf, yaitu 100gram, 150gram, 250gram. Perlakuan terdiri dari 3 kali pemberian pupuk. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) sederhana.

E.     Cara Kerja Penelitian
    1. A.     Penanaman
    2. Memilih bibit tanaman yang ungul
    3. Menyiapkan alat dan bahan
    4. Menanam bibit  ke dalam polibag besar
    5. Menyiram tanaman setiap hari
    6. Mengukur tinggi tanaman pada hari ke-10
    7. Memberi pupuk pada hari ke 10
    8. Mengukur tinggi dan banyaknya daun pada hari ke-15
    9. Mengukur pertumbuhan dan perkembangan pada hari ke-20

  1. B.     Pengolahan Data
  2. Melakukan observasi
  3. Mengumpulkan data
  4. Mengedit data
  5. Membuat laporan penelitian
F.     Analisis Data
    1. 1.     Hasil Data Pengamatan
POT
TINNGI
LEBAR
BANYAK
POHON
DAUN
DAUN
1
3 cm
kotiledon belum lepas
 -
2
2,80 cm
kotiledon belum lepas
 -
3
3 cm
kotiledon belum lepas
 -
4
2,50 cm
kotiledon belum lepas
 -
5
2,80 cm
kotiledon belum lepas
 -

Gambar. 1 kondisi tanaman pada hari ke-10
POT
TINNGI
LEBAR
BANYAK
DOSIS
POHON
DAUN
DAUN
PUPUK
1
5 cm
1cm
4 helai
150 gr
2
4,5 cm
0,5 cm
3 helai,kotiledon masih ada
200 gr
3
5 cm
1 cm
4 helai
250 gr
4
4 cm
0.5 cm
3 helai,kotiledon masih ada
300 gr
5
4 cm
0.5 cm
4 helai,kotiledon masih ada
350 gr

Gambar.2 Kondisi tanaman pada hari ke-15 serta pemberian pupuk


POT
TINNGI
LEBAR
BANYAK
DOSIS
KETERANGAN
POHON
DAUN
DAUN
PUPUK
1
5 cm
1cm
4 helai
150 gr
2 Hari setelah diberi pupuk
2
4,5 cm
0,5 cm
3 helai,kotiledon masih ada
200 gr
2 Hari setelah diberi pupuk
3
5 cm
1 cm
4 helai
250 gr
1.5 Hari setelah diberi pupuk
4
4 cm
0.5 cm
3 helai,kotiledon masih ada
300 gr
1 Hari setelah diberi pupuk
5
4 cm
0.5 cm
4 helai,kotiledon masih ada
350 gr
1 Hari setelah diberi pupuk

Gambar. 3 Kondisi tanaman pada hari ke-20, tanaman mati akibat pemberian pupuk di usia muda.
  1. 2.    Pengaruh Pupuk Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Peningkatan dosis pupuk urea dapat meningkatkan N-total dalam tanah. Peningkatan kadar N-total dalam tanah dimungkinkan melalui dua cara, yaitu secara langsung dimana semakin tinggi dosis pupuk urea yang diberikan sebagai sumber N maka jumlah hara N yang diberikan ke dalam tanah juga semakin tinggi, sehingga kadar N-total dalam tanah meningkat. Secara tidak langsung, peningkatan dosis urea akan menyebabkan peningkatan aktivitas dari mikroorganisme dalam merombak pupuk organik yang diberikan, sehingga dengan demikian semakin banyak N-organik yang termineralisasi dari pupuk organik yang diberikan.
Namun apabila pemberian pupuk ke tanaman pada umur kurang dari satu setengah bulan, akan mengakibatkan tanaman tidak akan tumbuh dengan subur, karena tanaman masih sangat mudah serta belum mampu melakukan sintesis terhadap pupuk yang diberikan. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan akan mempercepat layu tanaman, sehingga lama kelamaan tanaman akan hangus/mati akibat konsentrasi pupuk yang terlalu tinggi



BAB IV
PENUTUP

A.     Kesimpulan
  • Ø Pemberian pupuk pada tanaman di usia kurang dari satu setengah bulan akan mengakibatkan tanaman tidak akan tumbuh dengan subur, bahkan tanaman akan mati karena konsentrasi pupuk yang sangat tinggi.
  • Ø Pemberian pupuk dengan dosis yang sangat tinggi menyebabkan tanaman menjadi kerdil.

B.    Saran
  • Ø Para petani seharusnya menerapkan menejemen yang baik dalam usaha budidaya tanaman kangkung.
  • Ø Para petani seharusnya mencari trobosan baru untuk meningkatkan kualitas hasil produksinya
  • Ø Pemerintah seharusnya memberikan bantuan kepada para petani, khususnya subsidi pupuk yang murah.

 
DAFTAR PUSTAKA

Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT. Medyatama sarana Perkasa. Jakarta. Hlm. : 73-76.
Soepardi, G. 1979. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah, IPB Bogor. 59 hlm.
Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Dirjen Pendidikan Tinggi. Depdikbud. Jakarta.
Nurhayati Hakim, M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.K. Saul. M.A. Diha, G.B. Hong dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Unila. 488 hlm.
Barrer, R.M. (1978) Zeolites and Clay Minerals as Sorbents and Moleculer Sieves. Academic Press. London.
Nazaruddin. 1983. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Jakarta: Penebar Swadaya.
[PPT] Pusat Penelitian Tanah. 1983. Kriteria Sifat Kimia Tanah. Bogor: Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Sarief, E. S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.
Suwardi, et al.(1994). The quality of Natural Zeolites from japan and Indonesia and Their Application Effects for Soil Amendment. Jour. Agri. Sci. Tokyo Nogyo Daigaku, 39 (3), 133-148

Pengaruh Pupuk Organik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kenikir (Cosmos caudatus) dan Katuk (Sauropus androgynus).

Title: Pengaruh Pupuk Organik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kenikir (Cosmos caudatus) dan Katuk (Sauropus androgynus).
Author: Rahanita, Prima
Abstract: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk organik dan penambahan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman kenikir (Cosmos caudatus) dan katuk (Sauropus androgynus) yang dilaksanakan di Vegetable Garden, Unit Lapangan Darmaga, University Farm, Institut Pertanian Bogor mulai bulan Juni 2008 hingga bulan November 2008. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan acak kelompok faktor tunggal yang terdiri atas 6 perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan tersebut adalah dosis pupuk kandang sapi 0 ton per ha, 5 ton per ha, 10 ton per ha, 20 ton per ha, kemudian dosis pupuk kandang sapi 20 ton per ha ditambah pupuk majemuk NPK dosis 100 kg per ha dan dosis pupuk kandang sapi 20 ton per ha ditambah pupuk majemuk NPK dosis 200 kg per ha. Benih tanaman kenikir (Cosmos caudatus) dan stek batang tanaman katuk (Sauropus androgynus) yang digunakan berasal dari Desa Tenjolaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Pengamatan dilakukan pada daya tumbuh, tinggi tanaman, dan jumlah daun tanaman kenikir; serta daya tumbuh, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anak daun, dan bobot panen tanaman katuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kandang sapi dan pupuk kandang sapi yang ditambah pupuk majemuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap daya tumbuh dan jumlah daun tanaman kenikir dan katuk, serta jumlah anak daun dan bobot panen tanaman katuk. Hasil yang berbeda nyata ditemukan pada tinggi tanaman kenikir umur 2 MST dan pertambahan tinggi tanaman katuk umur 6, 7, 8, 9, dan 11 MST. Tanaman kenikir umur 4 MST mulai berbunga kemudian pertambahan tinggi menjadi lambat dan daun muda tidak dapat muncul serta berkembang, sehingga tanaman kenikir tidak memiliki bagian untuk dikonsumsi dan dipanen. Pada usia 8 MST, tanaman kenikir mati.
URI: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/19430

Pengaruh pupuk untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif

Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman adalah dengan pemberian pupuk kandang dan urea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower. Penelitian dilaksanakan di Kebun Bibit Lebak Bulus Dinas Pertanian DKI Jakarta Lebak Bulus Jakarta Selatan dari bulan Desember 2002 sampai dengan bulan Februari 2003. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok tiga ulangan dengan penyusunan perlakuan faktorial. Faktor pertama jenis pupuk kandang yaitu : (A) kotoran Ayam, (B) Kotoran Kambing, (C) kotoran Sapi, dan (D) kotoran Kuda. Faktor kedua konsentrasi pupuk urea yaitu : (P1) 0,6 g/l air, (P2) 1,2 g/l air, dan (P3) 1,8 g/l air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan beberapa jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Onchidium Golden Shower sampai umur 10 MST. Interaksi antara jenis pupuk kandang dengan konsentrasi pupuk urea berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 2 MST dan panjang daun terpanjang pada umur 10 MST.
Kata kunci : Oncidium, Pupuk kandang, Urea, Pertumbuhan vegetatif

ABSTRACT. Elfarisna, Parsan and Sularno. 2004. The effects of manure and the concentration of urea fertilizer on orchid vegetative growth of Oncidium. The experiment was aimed to obtain the effects of manure (chicken, goat, cow, and horse) and urea level on orchid vegetative growth (Oncidium Golden Shower) . This experiment was carried out at Nursery Field of Agricultural Unit DKI Jakarta, Lebak Bulus South Jakarta between December 2002 and February 2003. The experiment was conducted using a randomized block design with two factors. The first factor was manure (chicken, goat, cow, and horse), and the second was urea level (0,6 g, 1,2 g, 1,8 g/litre water) in three replications. The results showed that manure and urea level had not significant effect on vegetative growth of orchid (Oncidium Golden Shower ) until 10 weeks after plant. The interaction effect manure and urea level were significant on leaf number at 2 weeks after plant and leaf length at 10 weeks after plant.

Keywords : Oncidium, Manure, Urea, Vegetative growth
Anggrek merupakan tanaman berbunga indah yang tersebar luas di pelosok dunia, termasuk Indonesia. Kontribusi anggrek Indonesia dalam khasanah anggrek dunia cukup besar. Dari 20.000 spesies anggrek yang tersebar di seluruh dunia, 6.000 di antaranya berada di hutan-hutan Indonesia. Selain anggrek spesies, dikenal juga beberapa hasil silangan atau hibrida. Diperkirakan setiap tahun dihasilkan 1.000 hibrida baru (Sandra, 2003).
Golongan Oncidium memiliki ciri yang menonjol yaitu bibir bunga yang besar bundar dan berwarna kuning bernoktah coklat tua dan tipe pertumbuhan simpodial, yaitu pertumbuhan ujung-ujung batangnya terbatas, dan diperbanyak dengan cara displit (Soeryowinoto, 1974). Untuk memacu pertumbuhan anggrek terutama Oncidium golden shower perlu dilakukan pemilihan media dan takaran pupuk yang tepat sehingga pertumbuhan dan produksi bunga sesuai dengan harapan, baik dari segi kuantitas maupun segi kualitas.
Pupuk kandang merupakan sumber unsur hara bagi tanaman yang murah dan mudah diperoleh. Macam-macam pupuk kandang yang sering digunakan adalah kotoran kuda, sapi, kerbau, kambing, ayam dan lain-lain. Selain mengandung unsur hara, pupuk kandang juga membantu dalam penyimpanan air, terutama pada saat musim kemarau.
Menurut Hendaryono dan Sriyanti (1998) pupuk kandang yang baik berasal dari kotoran kuda yang telah mengalami dekomposisi yang baik, cara penggunaannya dicampur dengan sekam padi untuk memperbaiki porositas media, sehingga dapat memperlancar aerasi dan drainase. Perbandingan antara pupuk kandang dengan sekam padi adalah 2 : 1.
Di awal pertumbuhan, tanaman sangat banyak membutuhkan unsur hara, terutama unsur nitrogen. Karena jumlah unsur hara yang tersedia pada media sangat terbatas, perlu dilakukan pemberian pupuk lebih lanjut, baik pada media maupun pada daun. Nitrogen (N) merupakan unsur utama penunjang pertumbuhan vegetatif tanaman yang berperan dalam pertumbuhan akar, bulb, batang, keiki, daun dan awal pembentukan bunga pada anggrek (Hendaryono dan Sriyanti, 1998).
Dosis pemupukan yang kurang tepat dapat memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan tanaman anggrek. Menurut Gunawan (1985) tanaman yang kekurangan nitrogen menunjukkan gejala daun baru menjadi kerdil, dan sebaliknya kelebihan nitrogen tanaman menunjukkan pertumbuhan dan batang yang cepat, namun batang lemah dan pembungaan terhambat sehingga mengingat pentingnya peranan media dan Nitrogen dalam pertumbuhan dan perkembangan anggrek Oncidium golden shower, perlu dilakukan suatu penelitian terhadap jenis media tanam, dan dosis nitrogen yang tepat untuk budidaya anggrek Oncidium Golden Shower.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk ; 1) Mengetahui jenis pupuk kandang yang cocok untuk pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower, 2) Mengetahui konsentrasi pupuk urea yang cocok untuk pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower, 3) Mengetahui pengaruh interaksi antara jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower.
Jenis pupuk kandang, konsentrasi pupuk urea dan interaksi keduanya diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi media tanam yang cocok untuk anggrek Oncidium Golden Shower.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2002 sampai dengan Februari 2003 di Kebun Bibit anggrek Dinas Pertanian DKI Jakarta, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Lokasi kebun berada pada ketinggian 26,2 m dpl, terletak pada 160o LS dan 106o BT, suhu rata-rata bulanan 24,1oC, kelembaban relatif rata-rata 82 %, curah hujan tahunan 2,209 mm, penyinaran matahari rata-rata 60,3%.
Bahan yang digunakan adalah bibit dari tanaman anggrek Oncidium Golden Shower yang telah dipilih, potongan sabut kelapa, sekam, kotoran sapi, kotoran ayam, kotoran kambing dan kotoran kuda, urea, TSP, KCl, Benlate dengan konsentrasi 2 g/l air dan Curacron 50 EC dengan konsentrasi 2 cc/l air.
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang dan faktor kedua adalah konsentrasi pupuk urea yang diulang tiga kali. Setiap perlakuan terdiri atas 3 pot. Perlakuannya adalah :
1. Pupuk kandang yang terdiri dari :
A = pupuk kandang ayam
B = pupuk kandang kambing
C = pupuk kandang sapi
D = pupuk kandang kuda
2. Konsentrasi pupuk urea terdiri dari :
P1 = 0,6 g/l air
P2 = 1,2 g/l air
P3 = 1,8 g/l air
Jika hasil uji F berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5%.
Pelaksanaan.
1. Pembuatan media tanam
Media tanam yang dimaksud adalah campuran sekam dengan berbagai jenis pupuk kandang. Adapun cara pembuatan media adalah sebagai berikut :
a. Pupuk kandang dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 hari, kemudian dibersihkan dari bahan-bahan lain seperti batu, rumput dan bahan-bahan lain.
b. Pupuk kandang (ayam, sapi, kambing, kuda) dan sekam disangrai terlebih dahulu untuk membunuh bakteri atau jamur.
c. Pupuk kandang dan sekam yang telah disangrai dicampurkan dengan perbandingan 2 : 1, dan diaduk sampai merata.
2. Persiapan sabut kelapa.
Sebelum digunakan, sabut kelapa dikeringkan terlebih dahulu, sabut kelapa dipotong-potong sepanjang + 10 cm. Potongan sabut kelapa tersebut digunakan sebagai penjepit rizoma anggrek Oncidium Golden Shower, sehingga bibit tidak mudah rebah. Penjepitan pada bulb harus dihindari karena dapat menghambat pertumbuhan anakan/tunas baru.
3. Persiapan pot.
Pot yang digunakan adalah pot tanah berdiameter 15 cm. Sebelum digunakan, pot terlebih dahulu dicuci, disiram untuk menghilangkan debu-debu dan kotoran lain yang menempel di pot.
4. Persiapan bibit
Bahan tanaman diambil dari tanaman yang sehat dan subur dengan cara displit. Menurut Soeryowinoto dan Soeryowinoto (1997) anggrek simpodial, pada dasarnya jika sudah mempunyai enam bulb sudah dapat displit menjadi dua tanaman masing-masing tiga bulb.
Bahan tanaman (bibit) yang digunakan tidak sedang berbunga atau dalam masa pertumbuhan vegetatif. Bibit diusahakan dalam pertumbuhan yang seragam, terutama bulb yang akan diamati.
5. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
a. Rhizoma bibit dijepit dengan dua potongan sabut kelapa, kemudian diletakkan pada dasar pot, sambil ditekan, ditambahkan potongan sabut kelapa agar bibit dapat berdiri tegak.
b. Media yang sudah disiapkan dimasukkan ke dalam pot sampai mendekati bibir pot, kira-kira 1 cm dari permukaan pot.
c. Setelah penanaman selesai, tanaman disiram sampai basah.
Dalam penanaman bibit diposisikan dengan bulb yang lebih tua mendekati sisi pot, hal ini mengingat tipe pertumbuhan anggrek Oncidium Golden Shower yang simpodial. Waktu penanaman dilakukan sore hari pada tempat yang ternaungi.
6. Pemupukan.
Pemupukan TSP dan KCl dilakukan pada saat tanam dengan cara memasukkan ke dalam media tanam. Dosis TSP dan KCl yang diberikan adalah 1,2 gr per tanaman. Sedangkan pupuk urea (perlakuan) diberikan setelah tanaman berumur 1 MST dengan frekuensi pemupukan seminggu dua kali. Konsentrasi pemupukan diberikan menurut perlakuan masing-masing
7. Pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Pengendalian gulma dilakukan dengan cara mencabut gulma yang tumbuh kemudian membuangnya. Sedangkan pengendalian hama yaitu keong dibasmi dengan Curacron 2 cc/l air dan pengendalian penyakit disemprot Benlate 2 g/l air sekali sebulan.
Peubah yang diamati adalah sebagai berikut : jumlah daun diamati pada bulb yang telah ditentukan, tinggi tanaman diukur dari permukaan media sampai ujung daun tertinggi, jumlah bulb dihitung pada setiap pot, dan panjang daun terpanjang diukur pada bulb yang sama dengan pengamatan jumlah daun.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Umum
Selama pelaksanaan penelitian tanaman memperlihatkan pertumbuhan yang seragam. Hal ini seiring dengan hasil pengujian analisis ragam bahwa pengaruh jenis pupuk kandang, konsentrasi pupuk urea dan interaksi keduanya menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun pada umur 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST, tinggi tanaman dan jumlah bulb pada umur 2 MST sampai 10 MST.
Sedangkan peubah jumlah daun pada umur 2 MST dan panjang daun terpanjang yang diamati pada umur 10 MST menunjukkan pengaruh tidak nyata ditunjukkan oleh perlakuan jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea, tetapi interaksi keduanya menunjukkan pengaruh sangat nyata.
Pada umur 4 MST perlakuan kombinasi BP2 ( pupuk kandang kambing dan urea 1,2 g/l) terserang penyakit yang disebabkan oleh jamur. Hal ini ditandai adanya benang-benang hifa berwarna keputihan disekitar bulb yang terserang. Penyakit ini menyebabkan busuk akar, bulb, dan gugur daun. Sebagai langkah penanggulangannya dilakukan penyemprotan fungisida benlate sesuai dosis yang dianjurkan. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali.
B. Hasil Penelitian
1. Jumlah Daun.
Pengamatan jumlah daun dilakukan setiap dua minggu sekali pada umur 2 MST, 4 MST, 6 MST, dan 10 MST. Jumlah daun pada anggrek Oncidium Golden Shower memiliki pertumbuhan yang terbatas. Pertumbuhan daun akan terhenti setelah bulb memasuki pertumbuhan generatif. Berdasarkan analisis ragam jumlah daun menunjukkan bahwa perlakuan jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan interaksi antara keduanya menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah daun pada umur 2 MST (Tabel 1 dan 2).
Tabel 1. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea terhadap Jumlah Daun (helai) Anggrek Oncidium Golden Shower. (The effects of manure and urea level on leaf number Oncidium Golden Shower orchid).
Perlakuan (treatment)
Jumlah Daun (leaf number)
2 MST
4 MST
6 MST
8 MST
10 MST
Jenis Pupuk Kandang (manure)
A (Ayam) (chicken)
6,84
6,63
6,59
6,56
6,11
B (Kambing) (goat)
6,82
6,48
6,37
6,26
5,78
C (Sapi) (cow)
6,48
6,33
6,03
6,04
5,52
D (Kuda) (horse)
6,48
6,63
6,11
6,22
5,56
Konsentrasi Pupuk Urea (urea level)
P1 (0,6 g/l)
6,63
6,39
6,20
6,22
5,69
P2 (1,2 g/l)
5,61
5,61
6,13
6,14
5,58
P3 (1,8 g/l)
6,59
6,59
6,58
6,58
5,94
MST = minggu setelah tanam (week after planting)
Tabel 2: Pengaruh Interaksi Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea Terhadap Jumlah Daun Anggrek Oncidium Golden Shower (The interaction effect of manure and urea level on leaf number Oncidium Golden Shower orchid).
Perlakuan (treatment)
Jumlah daun (leaf number)
2 MST
4 MST
6 MST
8 MST
10 MST
AP1
6,78 ab
6,33a
6,11a
6,33a
6,00a
AP2
6,67 ab
6,56a
6,56a
6,55a
6,00a
AP3
7,10 b
7,00a
7,11a
7,00a
6,33a
BP1
6,89 ab
6,78a
6,67a
6,67a
5,78a
BP2
6,91 ab
6,00a
5,78a
5,78a
5,44a
BP3
6,67 ab
6,67a
6,67a
6,33a
6,11a
CP1
6,33 a
6,44a
6,22a
5,89a
5,78a
CP2
6,44 ab
6,33a
6,11a
6,11a
5,11a
CP3
6,67 ab
6,22a
6,11a
6,11a
5,67a
DP1
6,44 ab
6,00a
5,78a
6,00a
5,22a
DP2
6,78 ab
6,56a
6,11a
6,11a
5,78a
DP3
6,33 a
6,44a
6,44a
6,22a
5,67a
Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT pada taraf 5% (Numbers followed by the same letters in the same column are not significantly different at 5 % of LSD).
2. Tinggi Tanaman.
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan pada umur 2 MST, 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST. Berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa jenis pupuk kandang tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman anggrek Oncidium Golden Shower. Demikian halnya dengan pengaruh konsentrasi pupuk urea dan interaksi keduanya menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman (Tabel 3).
Tabel 3. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea Terhadap Tinggi Tanaman (cm) Anggrek Oncidium Golden Shower (The effect of manure and urea level on plant height Oncidium Golden Shower orchid).
Perlakuan (treatment)
Tinggi Tanaman (plant heigth)
2 MST
4 MST
6 MST
8 MST
10 MST
Jenis Pupuk Kandang (manure)
A (Ayam) (chicken)
23,51
25,83
27,54
28,79
29,79
B (Kambing) (goat)
21,45
23,14
24,66
26,00
29,03
C (Sapi) (cow)
24,90
27,62
28,22
29,34
30,27
D (Kuda) (horse)
23,20
25,75
27,68
29,06
30,20
Konsentrasi Pupuk Urea (urea level)
P1 (0,6 g/l)
24,56
27,14
28,15
27,51
30,46
P2 (1,2 g/l)
23,32
25,26
26,58
27,63
29,26
P3 (1,8 g/l)
21,92
24,32
26,33
28,42
30,25
3. Jumlah bulb.
Pengamatan jumlah bulb dilakukan pada umur 2 MST, 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST. Jumlah bulb awal yang ditanam adalah tiga bulb, termasuk tunas muda. Hasil analisis ragam jumlah bulb menunjukkan bahwa jenis pupuk kandang, konsentrasi pupuk urea dan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah bulb Onchidium Golden Shower (Tabel 4).
Tabel 4. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea Terhadap Jumlah Bulb Anggrek Oncidium Golden Shower (The effect of manure and urea level on tuber number Oncidium Golden Shower orchid).
Perlakuan (treatment)
Jumlah bulb (tuber number)
2 MST
4 MST
6 MST
8 MST
10 MST
Jenis Pupuk Kandang (manure)
A (Ayam) (chicken)
3,18
3,33
3,34
3,74
3,88
B (Kambing) (goat)
3,33
3,30
3,34
3,64
3,67
C (Sapi) (cow)
3,15
3,07
3,11
3,52
3,52
D (Kuda) (horse)
3,00
3,11
3,15
3,37
3,26
Konsentrasi Pupuk Urea (urea level)
P1 (0,6 g/l)
3,08
3,08
3,28
3,50
3,58
P2 (1,2 g/l)
3,14
3,17
3,14
3,53
3,55
P3 (1,8 g/l)
3,28
3,36
3,39
3,70
3,64
4. Panjang Daun Terpanjang.
Pengamatan panjang daun terpanjang dilakukan pada akhir pengamatan (10 MST). Daun terpanjang pada anggrek Onchidium Golden Shower adalah daun yang tumbuh pada ujung bulb. Munculnya daun terpanjang menandakan pertumbuhan vegetatif bulb anggrek Onchidium Golden Shower telah maksimal. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap panjang daun terpanjang (Tabel 5).
Interaksi antara jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea berbeda nyata berdasarkan uji BNT pada taraf 5% terhadap panjang daun terpanjang pada umur 10 MST. Perlakuan interaksi pada CP1 (24,96) menunjukkan panjang daun terpanjang yang paling tinggi nilainya (Tabel 6).
Tabel 5. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea Terhadap Panjang Daun Terpanjang (cm) Anggrek Oncidium Golden Shower (The effect of manure and urea level on leaf length Oncidium Golden Shower orchid).
Perlakuan (treatment)
Panjang Daun (leaf length)
10 MST
Jenis Pupuk Kandang (manure)
A (Ayam) (chicken)
22,63
B (Kambing) (goat)
21,99
C (Sapi) (cow)
23,54
D (Kuda) (horse)
22,60
Konsentrasi Pupuk Urea (urea level)
P1 (0,6 g/l)
22,90
P2 (1,2 g/l)
22,53
P3 (1,8 g/l)
22,65
Tabel 6. Pengaruh Interaksi Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea Terhadap Panjang Daun Terpanjang (cm) Anggrek Oncidium Golden Shower.(The interaction effect of manure and urea level on leaf length Oncidium Golden Shower orchid).
Perlakuan (treatment)
Panjang Daun (leaf length) 10 MST
P1
P2
P3
A (ayam ) (chicken)
23,17cd
23,50 de
21,22 a
B (kambing) (goat)
21,79 abc
21,22 a
22,96 bcd
C (sapi) (cow)
24,96 e
22,58 abc
23,33 bcd
D (kuda) (horse)
21,67 ab
22,80 bc
23,30 d
Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNT pada taraf 5% (Numbers followed by the same letters are not significanly different at 5 % of LSD).
Pembahasan.
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat dikatakan bahwa jenis pupuk kandang yang diuji tidak berbeda nyata, sehingga pengaruh yang diberikan terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah bulb, panjang daun terpanjang, dan persentase tumbuh sama.
Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang sangat bergantung pada jenis ternak, jenis pakan, sifat kotoran, cara penyimpanan, pengolahan dan pemakaiannya. Hal ini seiring dengan pendapat Musnamar (2003) bahwa proses penguapan dan penyerapan dapat menyebabkan hilangnya unsur hara dalam pupuk kandang terutama unsur N sekitar 50 % dan unsur K 60 % hilang karena proses ini.
Salah satu faktor penyebab perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan adalah metode pengolahan pupuk kandang yang kurang tepat dan adanya pencucian yang cukup tinggi oleh air hujan. Dalam metode penelitian disebutkan bahwa pupuk kandang terlebih dahulu dikeringkan dibawah sinar matahari, kemudian disangrai. Di duga kedua tindakan tersebut menghilangkan kandungan unsur hara pupuk kandang akibat adanya penguapan.
Dugaan lain adalah perbandingan campuran media yang digunakan merupakan salah satu faktor penyebab adanya pengaruh pupuk kandang yang tidak nyata terhadap pertumbuhan anggrek Oncidium Golden Shower. Jenis campuran yang digunakan adalah sekam padi dengan perbandingan 2 : 1. Menurut Untung (2000) sekam bersifat higroskopis, namun proses pelapukannya cukup lambat. Hal ini mengakibatkan hara yang ada digunakan oleh mikroorganisme untuk dekomposisi sekam.
Pada dasarnya sekam padi memang sangat baik untuk memperlancar perkolasi dalam media. Namun perkolasi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan adanya pencucian hara oleh air hujan maupun air siraman. Curah hujan yang cukup tinggi (306,13) selama penelitian menyebabkan adanya proses pencucian hara pupuk kandang. Menurut Atjung (1988) bahwa air yang mengalir keluar dari wadah media (pupuk), maka sari pupuk kandangpun ikut mengalir dengan air.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan penyemprotan konsentrasi pupuk urea tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower. Curah hujan yang tinggi pada awal pelaksanaan penelitian menyebabkan adanya pencucian perlakuan dosis pupuk urea. Setelah dilakukan penyemprotan seringkali hujan turun, sehingga unsur hara yang diberikan tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman secara optimal. Hal ini merupakan salah satu faktor adanya pengaruh perlakuan dosis penyemprotan pupuk urea tidak nyata terhadap semua parameter pengamatan dari umur 2 MST sampai 10 MST.
Hasil rata-rata pada setiap peubah pengamatan menunjukkan bahwa tanaman yang disemprot dengan dosis 1,8 g/l air (P3) menghasilkan nilai rataan tertinggi terhadap jumlah daun dan jumlah bulb (tabel 2 dan 5). Sedangkan peubah tinggi tanaman dan panjang daun terpanjang nilai rataan tertinggi pada konsentrasi 0,6 g/l air (P1).
Hal ini merupakan indikasi bahwa penyemprotan konsentrasi pupuk urea yang diuji masih menunjukkan pengaruh walau tidak berbeda nyata. Diduga hal ini disebabkan pengujian interval konsentrasi yang digunakan terlalu rendah, sehingga hasil yang ditunjukkan tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman.
Namun gejala kekurangan dan kelebihan nitrogen pada tanaman tidak ditemukan, seperti yang dikemukakan oleh Gunawan (1999) bahwa tanaman yang kekurangan N menunjukkan gejala daun yang berwarna hijau muda – hijau, gejala ini muncul pada daun tua kemudian dapat diamati pada seluruh daun. Daun yang baru muncul makin kecil dan tanaman juga kerdil. Sebaliknya kelebihan N tanaman menunjukkan pertumbuhan batang dan daun yang cepat namun batang lemah dan pembungaan terhambat.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Dosis Pupuk Urea Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Anggrek Oncidium Golden Shower dapat disimpulkan bahwa :
1. Penggunaan beberapa jenis pupuk kandang (kotoran ayam, kotoran sapi, kotoran kambing, dan kotoran kuda) dan konsentrasi pupuk urea memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower sampai umur 10 MST.
2. Interaksi antara jenis pupuk kandang dengan konsentrasi pupuk urea berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 2 MST, dan panjang daun terpanjang pada umur 10 MST.
PUSTAKA
1. Atjung, 1975. Tanaman Hias. C.V. Yasaguna. Jakarta
2. Gunawan, L. W. 1999. Budidaya Anggrek. Penebar Swadaya. Jakarta
3. Hendaryono dan D.P.Sriyanti. 1998. Budidaya Anggrek dengan Bibit dalam Botol. Kanisius. Yogyakarta.
4. Musnawar, E. I. 2003. Pupuk Organik. Penebar Swadaya. Jakarta
5. Sandra, E. 2002. Membuat Anggrek Rajin Berbunga. P.T. Agro Media Pustaka. Jakarta
6. Soeryowinoto, S. M. 1974. Merawat Anggrek. Kanisus. Yogyakarta.
7. Soeryowinoto, S. M. dan M. Soeyowinoto. 1997. Perbanyakan Vegetatif pada Anggrek. Kanisus. Yogyakarta.
8. Untung, O. 2002. Hidroponik Sayuran Sistem NFT (Nutrient Film Technique). Penebar Swadaya. Jakarta.

SUMBER : Elfarisna, Parsan dan Sularno. 2004. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea terhadap Pertumbuhan Vegetatif Anggrek Oncidium Prosiding Seminar Nasional Florikultura, Bogor, 4-5 Agustus: 71 – 78